Setelah krisis keuangan global di tahun 90-an muncul, banyak perusahaan-perusahaan yang bangkrut dan akhirnya gulung tikar terutama perusahaan-perusahaan yang memiliki pinjaman di bank konvensional. Namun ada beberapa perusahaan yang mampu bertahan dari dahsyatnya krisis ekonomi tersebut. Kebanyakan diantaranya adalah perusahaan yang menggunakan prinsip syariah dalam kegiatan usahanya. Belajar kondisi tersebut, saat ini banyak bermunculan perusahaan-perusahaan yang menjalankan bisnisnya dengan menggunakan prinsip keuangan syariah baik secara menyeluruh ataupun sebagian saja. Namun di dalam dunia ekonomi, prinsip syariah adalah metode yang baru dan banyak orang yang mengenalnya, begitu juga di bidang akuntansi. Sehingga diperlukan sebuah standar yang dapat menyelaraskan pelaporan keuangan untuk perusahaan yang bergerak dengan menggunakan prinsip syariah.

Sama seperti standar akuntansi keuangan konvensional, standar akuntansi keuangan syariah disusun oleh suatu lembaga resmi (Standard Setting Body) dalam SAK Syariah ini dibuat oleh The Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution (AAOIFI) yang berbasis di Dubai. Standar akuntansi ini dipakai dan diadopsi oleh banyak negara-negara yang menerapkan prinsip ekonomi islam.

 

Standar Akuntansi Keuangan Syariah di Indonesia

Di Indonesia sendiri, permasalahan standarisasi laporan keuangan syariah ditangani oleh Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAK) yang berada di bawah naungan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). DSAK dibentuk di Jakarta pada kongres ke-8 IAI pada tahun 1998. Saat ini, Standar Akuntansi Keuangan Syariah di Indonesia menggunakan PSAK 101 (2014). SAK Syariah tersebut menggantikan SAK Syariah yang disahkan tahun 2002 dan menyempurnakan SAK tahun 2007 dan 2011.

Dasar pembuatan SAK Syariah ini bersumber pada Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 282-283. Ayat tersebut menjabarkan prinsip pencatatan laporan keuangan yang menggunakan konsep kejujuran, keadilan dan kebenaran. Pembuatan SAK Syariah ini mengikuti perkembangan ekonomi islam di dunia. Perkembangan tersebut menciptakan lingkungan ekonomi dan pasar baru yang berbasis syariah.

Ada beberapa jenis standar pelaporan keuangan berbasis syariah berdasarkan jenis transaksinya yang sudah dibuat oleh DSAK Syariah Indonesia. Beberapa diantaranya adalah:

  1. PSAK 102 Akuntansi Murabahah
  2. PSAK 103 Akuntansi Salam
  3. PSAK 104 Akuntansi Istisna’
  4. PSAK 105 Akuntansi Mudharabah
  5. PSAK 106 Akuntansi Musyarakah
  6. PSAK 107 Akuntansi Ijarah
  7. PSAK 108 Akuntansi Transaksi Asuransi Syariah
  8. PSAK 109 Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah

Kesimpulan

Pada saat ini, banyak pebisnis-pebisnis yang mulai merambah dan beralih menggunakan prinsip syariah dalam usahanya. Oleh karena itu, pembuatan dan penyusunan standar akuntansi keuangan syariah perlu dibuat untuk menyambut tantangan dan perkembangan tersebut. Namun tidak banyak orang yang mengetahui tentang cabang akuntansi yang tergolong baru ini. Sehingga diperlukan pengenalan dan pelatihan untuk mensosialisasikan standar akuntansi keuangan syariah ini. Jika anda memiliki pertanyaan mengenai akuntansi syariah, anda dapat [highlights]klik disini[/highlights] untuk berkonsultasi dengan pakar akuntansi dari akuntansionline.id. Baca juga tentang Standar Akuntansi yang ada di Indonesia [highlights]disini[/highlights].