Freelancer

Akhir pekan lalu saya bertemu dengan Sandy, seorang sahabat yang menghabiskan 4 tahun terakhir menjadi seorang pekerja lepas atau freelancer di bidang desain komunikasi visual. Kami bercerita begitu asyiknya di suatu cafe di bilangan Jakarta Selatan tentang banyak hal, dari mulai kenangan masa sekolah jaman dahulu hingga kehidupan profesional saat ini.

Sandy membuka pembicaraan tentang kehidupan profesionalnya dengan menceritakan berbagai projek-projek yang sudah dan sedang dia kerjakan. Saya pun menanggapinya dengan begitu senang, karena melihat sahabat saya bercerita tentang beberapa kesuksesannya dalam melakukan pekerjaannya. Dia begitu antusias dengan profesinya, hal itu terlihat dari semangatnya menceritakan pekerjaannya kepada saya.

Lalu saya pun terpikirkan suatu hal dan langsung saya tanyakan kepadanya, “Anyway San, kenapa lo ga buat perusahaan jasa saja? Supaya semakin jelas dan semakin memiliki kesempatan untuk meraih kesuksesan yang lebih besar lagi.” Kenapa saya menanyakan hal itu, karena saya melihat kalau Sandy memiliki potensi yang sangat baik dalam melakukan pekerjaannya.

Sandy pun semakin antusias menanggapi pertanyaan saya tersebut, “Nah maunya sih gitu bro, tapi gue pikir-pikir kayanya ribet banget bikin perusahaan, harus ke notaris bikin akta perusahaan, harus urus ini itu, belum lagi akuntansi dan pajak-pajakan, terkadang gue ga ada waktu urusin itu semua.” Sandy juga langsung manambahkan, “Ini saja sebagai freelance gue sudah pusing dengan urusan manajemen keuangan bro, apalagi perusahaan, wah repot urusannya pasti.”

 

Pentingnya Pengelolaan Keuangan Bagi Freelancer

Mendengar keluhan dirinya mengenai pengelolaan keuangan, saya pun penasaran. “Loh, memang selama ini gimana cara lo mengelola keuangan sebagai freelancer?” tanya saya kepada Sandy. “Gue tau banget bro betapa pentingnya pengelolaan keuangan untuk hidup gue. Bener kata orang-orang, kalau kita ga pinter-pinter mengelola keuangan, mau gaji berapa pun ga akan cukup.” Lalu dia juga menambahkan “Dan gue tau banget, gue itu orangnya suka lupa, jadi selama ini percaya ga percaya gue punya buku catatan keuangan gue sendiri bro, ya walaupun basic banget, mana pengeluaran, mana pemasukan, mana hutang, dan mana hutang orang yang belum bayar ke gue, se-simpel itu lah kira-kira.”

Sayapun terkejut dan heran melihat ternyata freelancer profesional seperti Sandy juga menganggap bahwa pencatatan dan pengelolaan keuangan itu penting sekali bagi keberlangsungan hidupnya. Sayapun mengatakan padanya, “Betul banget tuh bro, banyak orang yang suka lalai dengan keuangannya sendiri, akibatnya justru mereka sendiri yang merugi.”

Sandy lalu menanggapinya kembali secara serius, “Itulah bro. Untungnya gue diajarin sama dosen gue dulu tentang pentingnya hal-hal kaya gini. Jujur gue bisa bertahan 4 tahun lebih jadi freelancer itu cukup membanggakan buat gue, dan gue belajar banyak hal dari pengalaman gue. Bahwa hidup bukan cuma ‘cari duit’ tapi gimana caranya mengelola duit sebaik-baiknya setelah lo dapet duit, dan itu mustahil lah kalau lo ga punya catatan keuangan dan plan yang jelas. Memang kedengarannya RIBET, tapi mengelola keuangan itu satu KEWAJIBAN bagi siapapun sih menurut gue, ga perusahaan, ga perorangan freelance kaya gue, wajib!”

Dengan rasa kagum padanya, saya pun menceritakan kepadanya mengenai kami di www.akuntansionline.id dan bagaimana kami membantu perusahaan dan bahkan freelance seperti dirinya dapat mengelola semua keuangannya hanya dari komputer tablet miliknya kapanpun dan dimanapun dia mau. Kemudian Sandy dengan begitu antusiasnya langsung mencoba untuk mengakses akuntansionline.id dari komputer tablet yang sejak tadi dia pegang. “Wah ini keren bro, gue bisa urusin gini-ginian sambil jalan-jalan dong ya!?” kata Sandy sambil tersenyum lebar.

Kagum dan senang rasanya bisa membantu meringankan kerja sahabat seperti Sandy. Kamipun melanjutkan perbincangan kami mengenai banyak hal di cafe itu.