Beberapa hari yang lalu, kita dikejutkan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Saat ini nilai tukar rupiah sudah menyentuh angka lebih dari Rp 13.000,- per Dollar AS. Melemahnya nilai tukar rupiah ini secara langsung ataupun tidak langsung memberikan dampak terhadap transaksi perusahaan, terutama perusahaan yang menggunakan kurs mata uang asing sebagai bagian dari transaksinya.

Potensi resiko kerugian sangat besar bagi perusahaan yang menggunakan kurs mata uang asing untuk transaksi. Sebagai contoh, sebuah perusahaan suplier mendapatkan proyek untuk penyediaan peralatan dan perlengkapan rumah tangga sebuah proyek properti yang baru dibangun dengan nilai kontrak Rp 13 milyar. Suplier tersebut kemudian membeli barang kepada produsen peralatan rumah tangga asal Finlandia secara FOB dengan nilai beli USD 1.000.000,- pada saat kurs rupiah Rp 12.000,-. Asumsi laba yang diterima dari proyek ini adalah Rp 1 milyar. Namun ketika barang akan dikirim, tiba-tiba kurs rupiah melemah menjadi Rp 13.000,-. Maka kontraktor harus menanggung beban kenaikan kurs tersebut. Yang sebelumnya proyek ini diasumsikan mendapat untung 1 milyar, namun realisasinya malah tidak mendapatkan untung sama sekali. Kasus di atas baru satu transaksi, bagaimana jika perusahaan tersebut memiliki banyak transaksi di tempo yang sama. Tentunya sangat besar kerugian yang ditanggung perusahaan tersebut.

Melakukan transaksi hutang-piutang dengan menggunakan mata uang berbeda memiliki potensi resiko yang tidak dapat dikendalikan. Hal ini dikarenakan fluktuasi kurs mata uang berada diluar kendali perusahaan meskipun sudah ada rencana dan prediksinya. Tidak hanya disebabkan fluktuasi, potensi resiko transaksi dengan menggunakan mata uang berbeda juga berasal dari perubahan tingkat suku bunga.

Untuk mengatasi hal tersebut, biasanya perusahaan akan menaikan harga penjualan barang dari barang dagang yang dibeli seperti contoh di atas. Harga jual barang yang dinaikan adalah penjualan untuk transaksi berikutnya. Karena merubah harga penjualan barang yang sudah teken kontrak adalah hal yang mustahil. Meskipun telah menaikan harga jual, hal tersebut belum tentu menyelesaikan masalah. Ada potensi pembeli beralih ke kompetitor anda yang memiliki harga jual yang lebih murah. Namun jika produk anda memiliki kualitas yang baik dan pelayanan yang tidak mengecewakan, produk anda akan sangat masih memiliki pelanggan setia. Namun anda perlu kembali memperhatikan transaksi penjualan produk anda ke depannya. Namun menaikan harga barang hanya bisa dilakukan jika barang yang anda jual adalah barang-barang retail. Bagaimana jika barang yang anda jual menggunakan ikatan kontrak sama seperti contoh di atas? Namun ada cara-cara khusus untuk meminimalisir resiko tersebut.

Meminimalisir Potensi Kerugian Melemahnya Nilai Tukar Rupiah

Tips pertama untuk mengurangi potensi kerugian akibat fluktuasi kurs mata uang adalah meminimalkan transaksi hutang piutang yang menggunakan kurs berbeda. Contohnya, jika anda membeli persediaan barang dengan menggunakan mata uang USD, maka seharusnya anda menjualnya dengan mata uang USD juga. Semakin banyak anda bertransaksi dengan menggunakan mata uang berbeda, maka semakin besar potensi kerugiannya. Pada contoh kasus di atas, pihak suplier harusnya menawarkan jasa pengadaan barang dengan menggunakan kurs USD juga.

Tips kedua adalah membuat cadangan kas. Berkaca pada contoh di atas, cara ini dapat dilakukan langsung setelah supplier menandatangani perjanjian pembelian barang dari produsen Finlandia. Supplier langsung mencadangkan kasnya sebesar USD 1 juta yang nantinya akan dikeluarkan pada saat proses on board berlangsung. Hal ini dapat mengurangi potensi kerugian beban kurs. Jika suplier tersebut tidak memiliki kas yang cukup setara USD 1 juta, maka ia dapat membeli dari bank. Cara lain jika tidak mempunyai kas yang cukup untuk membeli dolar dari bank adalah meminjam dengan jangka waktu pendek dan bunga yang rendah.

Tips ketiga adalah dengan melakukan Hedging (pemindahan resiko). Hedging adalah usaha memindahkan potensi resiko kepada pihak ketiga. Pihak ketiga ini biasanya adalah bank. Proses hedging jika mengacu pada contoh kasus di atas sebenarnya tidak berbeda jauh dengan tips kedua di atas yaitu membeli dollar dari bank namun dengan cara memesan. Untuk sederhananya dijelaskan dengan contoh berikut. Perusahaan suplier pada contoh kasus di atas bermaksud membeli dolar dari bank. Namun karena persediaan dolar di bank juga tidak mencukupi, akhirnya perusahaan suplier tersebut memesan pembelian dolar (bukan membeli dolar) kepada bank dengan harga spot kontrak hedging kurs pada angka Rp 12.000,-. Sehingga ketika bank sudah memiliki persediaan USD 1 juta, maka bank nantinya akan menjual dolar tersebut kepada perusahaan suplier dengan nilai kurs Rp 12.000,-. Dengan demikian, perusahaan suplier mengurangi potensi kerugiannya.