Pada saat ini, bisnis start up sedang digandrungi oleh kalangan IT. Start up adalah rintisan usaha dengan menggunakan basis teknologi informasi untuk produknya. Dalam pendanaan bisnisnya, seorang entepreneur start up memiliki cirinya masing-masing. Ada yang menggunakan kemampuan dananya sendiri, ada juga yang melakukan pinjaman dana modal kepada kreditur untuk menjalankan usahanya. Berikut kami sajikan, 4 jenis pembiayaan start up.

 

1. Pembiayaan Hutang (Debt Financing)

Debt Financing adalah jenis pembiayaan yang biasanya melakukan pinjaman atau kredit dengan tingkat suku bunga tertentu kepada lembaga tertentu atau kreditur. Dalam hal ini, lembaga yang biasanya dijadikan kreditur adalah bank. Untuk dapat mengambil pinjaman, seorang entepreneur harus membuat sebuah proposal bisnis yang berisi laporan usahanya dan kebutuhan pendanaan yang diperlukan untuk bisnis start up yang sedang dijalaninya. Pihak kreditur biasanya akan melihat kondisi usaha berdasarkan laporan keuangan usaha tersebut pada periode tertentu. Dalam memberikan pinjaman, kreditur akan menetapkan suku bunga dan tanggal jatuh tempo untuk pengembalian pinjaman.

Pembiayaan melalui jalur ini sebenarnya memiliki resiko besar. Jika pada jatuh tempo pengembalian pinjaman, entepreneur tidak dapat mengembalikan pinjaman beserta bunganya. Maka aset-aset yang dimiliki oleh entepreneur akan disita sebagai pengganti pinjaman. Jika seorang entepreneur start up ingin melalui jalur ini untuk pendanaan usahanya, biasanya tidak akan mulus. Hal ini dikarenakan bank-bank masih melihat bisnis start up bukan sesuatu yang dapat menghasilkan sesuatu secara konstan di masa awal pendiriannya. Oleh karena itu, jarang kita melihat ada program pendanaan atau kredit untuk start up yang dikeluarkan oleh bank.

 

2. Pembiayaan Investor (Investment Financing/Equity Financing)

Pembiayaan investor adalah jenis pembiayaan yang dilakukan oleh pihak swasta atau investor terhadap suatu usaha. Pembiayaan jenis ini bisa dimulai dari skala kecil yaitu melalui keluarga atau teman, hingga ke skala besar yaitu melalui investor besar. Dalam pembiayaan ini, entepreneur start up dan investor akan menyepakati pendanaan untuk periode tertentu. Investor nantinya akan bertindak sebagai pemegang saham. Dana dari investor berbeda dengan dana pinjaman dari bank. Seorang entepreneur akan menggunakan dana dari investor untuk memutar usahanya. Pada periode tertentu, investor akan mendapatkan bagi hasil atau deviden dari keuntungan usaha yang dijalankan oleh entepreneur start up.

Sama seperti ketika melakukan pinjaman ke bank, seorang entepreneur perlu membuat proposal bisnis yang berisi laporan usaha dan keuangan usaha. Dari proposal tersebut, investor akan mengetahui apakah usaha yang dijalankan menjanjikan jika ia menginvestasikan dananya. Pembiayaan jalur ini resikonya lebih banyak kepada investor. Jika investor tidak bisa menilai dan memprediksi kesuksesan start up yang sedang ditawarkan kepadanya, maka resiko kehilangan uang akan sangat besar. Pembiayaan ini banyak dipakai oleh banyak entepreneur start up. Namun biasanya, entepreneur akan mencari investor setelah usahanya sudah berjalan setelah beberapa bulan dimulai.

 

3. Pembiayaan Sendiri (Bootstraping)

Bootstraping adalah pembiayaan yang dilakukan secara mandiri oleh entepreneur. Pembiayaan ini banyak dilakukan entepreneur start up yang sedang memulai usahanya. Pembiayaan berasal dari tabungan pribadi entepreneur. Namun untuk melakukan pembiayaan mandiri, seorang entepreneur harus betul-betul merencanakan kegiatan usahanya. Untuk memulai bootstraping, seorang entepreneur biasanya akan mengevaluasi aset-aset pribadi dan tabungannya. Setelah itu, ia akan melakukan perancanaan keuangan dengan prinsip melakukan banyak hal dengan sedikit pengeluaran (doing more with less). Pendanaan pribadi biasanya memang tidak bisa bertahan lama karena minimnya sumber daya. Namun jika seorang entepreneur start up mampu membuat perencanaan keuangan dan usahanya dengan baik, pengeluaran yang ia lakukan akan kembali dengan hasil usaha yang ia kerjakan.

 

4. Bantuan atau Hibah (Grant)

Ini adalah salah satu pembiayaan yang populer dan banyak dicari oleh entepreneur. Saat ini baik pihak pemerintah ataupun swasta banyak mengeluarkan program bantuan dan hibah modal kepada entepreneur start up. Beberapa bantuan modal diberikan secara langsung, namun ada juga yang melalui sebuah kompetisi start up. Lagi-lagi, dalam mengajukan bantuan modal, seorang entepreneur dituntut membuat sebuah proposal yang berisi rancangan bisnis yang dijalaninya, laporan keuangan bisnis dan rancangan pendanaan. Namun keuntungan lain, selain mendapatkan bantuan modal usaha, entepreneur juga berkesempatan mendapatkan program inkubator bisnis dan mentoring dengan praktisi yang ada. Ini lah yang membuat pembiayaan melalui bantuan modal sangat diminati oleh entepreneur start up.

 

Kesimpulan

Pembiayaan untuk bisnis start up memiliki banyak jalur. Tiap jalur memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun yang terpenting dari semua jalur pembiayaan adalah pembuatan laporan keuangan dan rancangan pendanaan kegiatan usaha. Ini perlu diperhatikan oleh setiap entepreneur. Meskipun menggunakan dana atau aset pribadi, namun perhitungan biaya dan pengeluaran perlu dikontrol dan dievaluasi. Oleh karena itu, pencatatan transaksi keuangan usaha harus dibukukan dalam sebuah laporan keuangan yang baik agar usaha yang dijalani pun dapat terkontrol dengan baik.