Perlambatan tumbuhnya ekonomi Indonesia saat ini sangat dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat, Pada kuartal pertama tahun 2015 target pertumbuhan Indonesia hanya berada pada angka 4,67%. Hal ini tentunya berdampak pada melemahnya perekonomian Indonesia. Melemahnya pertumbuhan perekonomian Indonesia disebabkan beberapa faktor seperti turunnya nilai rupiah serta turunnya harga-harga barang komoditi ekspor Indonesia di tingkat dunia serta karena melemahnya daya beli masyarakat.

Penurunan rupiah yang mencapai lebih dari Rp 13.000 per dollar menyebabkan kenaikan harga barang, terutama yang mengandalkan bahan baku impor. Kenaikan harga barang-barang ini mempengaruhi daya beli masyarakat terhada. Kenaikan harga BBM dan juga tarif listrik, serta transportasi membuat konsumen mengurangi belanja barang yang bukan merupakan kebutuhan pokok. Namun penurunan daya beli ini lebih banyak dirasakan oleh masyarakat kelas menengah kebawah, sehingga tidak heran jika di pusat perbelanjaan besar masih terjadi antrian panjang pembeli barang. Meskipun demikian, jika pelemahan ekonomi ini terus berlanjut dalam waktu yang lama, masyarakat kelas menegah ke atas pun akan menahan dan menahan konsumsinya pada barang-barang non pokok.

Penurunan daya beli masyarakat yang terjadi saat ini, bukan berarti masyarakat tidak memiliki uang untuk membeli sesuatu. Mereka sedang menahan kemampuan membeli barang-barang selain kebutuhan pokok. Saat ini masyarakat sedang dalam berada dalam kondisi economic survive. Mereka mencoba bertahan secara ekonomi untuk dapat keluar dari melemahnya perekonomian saat ini. Dalam teori pertumbuhan ekonomi yang digagas oleh Joseph Schumpeter, perekonomian suatu negara sejatinya memiliki grafik menanjak. Meskipun demikian diantara grafik yang menanjak tersebut terdapat siklus ekonomi, yaitu terjadinya resesi dan recovery yang terjadi secara bergantian pada rentang waktu tertentu. Menurut Schumpeter, saat ini ekonomi Indonesia sedang mengalami resesi atau perlambatan pertumbuhan.

Keadaan resesi ekonomi seperti sekarang membuat beberapa pabrik dan pengusaha menurunkan jumlah produksinya dan biaya produksinya. Imbas dari pengurangan ini adalah dirumahkannya karyawan-karyawan operasional pabrik. Hal ini tentunya juga memicu semakin melemahnya daya beli masyarakat. Para pekerja yang tadinya mendapatkan upah utuh, saat ini hanya mendapatkan sebagian karena kebijakan dari perusahaan tersebut. Sehingga para karyawan yang dirumahkan melakukan penghematan pengeluaran pribadi dan keluarganya.

Resesi ekonomi memang memiliki dampak negatif dalam beberapa hal. Namun dibalik itu, sebenarnya ada peluang yang bisa dimanfaatkan oleh pengusaha dan masyarakat jika mereka percaya dengan teori siklus ekonomi Schumpeter. Untuk para pengusaha, kondisi resesi ekonomi ini sebaiknya dimanfaatkan untuk membuat sebuah penelitian untuk menciptakan sebuah inovasi produk dengan kualitas yang lebih baik dari sekarang. Ketika nanti terjadi kondisi recovery, tentunya masyarakat akan memiliki daya beli yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ketika pengusaha mengeluarkan produk yang lebih inovatif dan memiliki added value yang berguna, tentunya produk tersebut akan lebih laris dan dibeli oleh masyarakat ketimbang produk sejenis yang tanpa perubahan atau inovasi seperti ketika masa resesi. Ini juga merupakan suatu strategi untuk para pengusaha dalam memenangkan persaingan pasar. Sedangkan bagi masyarakat, masa resesi ini juga harusnya dapat dimanfaatkan untuk menambah skill dan keterampilan pribadi. Hal ini dapat dilakukan dengan belajar baik secara otodidak atau mengikuti kursus dan mengambil sertifikasi. Seseorang yang memiliki skill dan keterampilan yang tinggi akan lebih dicari untuk menempati sebuah posisi di sebuah perusahaan pada saat masa recovery nantinya.