Perkembangan dunia teknologi dan informasi sekarang ini menuntut pengusaha dan perusahaan mengikuti trennya untuk mengakomodir kebutuhan pasar. Salah satu tren yang dilakukan perusahaan untuk mengikuti perkembangan teknologi dan informasi adalah membuat website. Website digunakan oleh perusahaan sebagai media promosi dan pemasaran bahkan sebagai media branding. Hal ini dikarenakan website menjadi salah satu media yang cukup efektif dalam memasarkan produk dan branding karena dapat menjangkau ke seluruh wilayah. Selain sebagai media promosi, website terkadang juga dirancang sebagai media monitoring dan evaluasi manajemen personalia untuk internal perusahaan. Sebagai contoh, beberapa perusahaan sengaja membeli hosting dan domain web untuk membangun sistem absensi dan pelaporan kinerja karyawan. Lalu dalam kaitannya dengan pencatatan akuntansi, bagaimanakah perlakuan akuntansi terhadap website? Dihitung sebagai apakah pengeluaran untuk website?

 

PSAK 19 (Revisi 2009)

Dalam Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh IAI, website dianggap sebagai harta tak berwujud dari suatu perusahaan yaitu PSAK 19 (REVISI 2009) tentang aset tak berwujud. Peraturan ini mengadopsi peraturan SIC 32: Website Cost. Pada dasarnya, biaya pengembangan website tidak dapat diakui sebagai aset tak berwujud. Namun jika website tersebut dapat menghasilkan manfaat ekonomi sesuai dengan syarat yang ada di dalam PSAK 19 (REVISI 2009), Maka website tersebut akan dihitung sebagai aset tak berwujud. Dengan demikian, sebuah website perusahaan akan diperlakukan seperti hak paten atau copyright perusahaan tersebut. Namun jika pengembangan website tidak menghasilkan manfaat ekonomi, maka pengeluaran untuk website tersebut akan dihitung sebagai biaya atau beban pada saat terjadinya transaksi. PSAK 19 (REVISI 2009) efektif diimplementasikan sejak tahun 2011.

 

Implementasi PSAK 19 (REVISI 2009)

Seperti yang dijelaskan di atas, website perusahaan akan dihitung sebagai aset tak berwujud jika website tersebut menghasilkan manfaat ekonomi. Hal ini tercantum dalam PSAK 19 (REVISI 2009) paragraf 17. Tahapan pengembangan website terbagi menjadi 4 tahap.

 

a.    Tahap Perencanaan

Pada tahapan ini, perusahaan akan melakukan riset terhadap urgensi keberadan website. Pengeluaran yang muncul pada tahap perencanaan akan dianggap sebagai biaya dan beban saat terjadinya (PSAK 19 (REVISI 2009), paragraf 53-55). Dalam paragraf 53 disebutkan bahwa:
“Entitas tidak boleh mengakui aset tidak berwujud yang timbul dari riset (atau dari tahapan riset pada proyek internal). Pengeluaran untuk riset (atau tahap riset pada suatu proyek internal) diakui sebagai beban pada saat terjadinya.”

 

b.    Tahap Pengembangan

Ketika website memasuki tahap pengembangan, yaitu pengembangan aplikasi, infrastruktur dan desain web, maka pengeluarannya akan diatur sebagai aset tak berwujud (PSAK 19 (REVISI 2009), paragraf 56-63). PSAK 19 (REVISI 2009) paragraf 56-63 menjelaskan bahwa, pengembangan aplikasi, infrastruktur dan desain web akan menghasilkan manfaat ekonomi di masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan, pada tahapan ini, website sudah dianggap memiliki “fisik” dan akan menghasilkan sesuatu di masa depan setelah disempurnakan. Salah satu contoh pengeluaran yang dilakukan saat tahapan pengembangan website adalah biaya pembelian konten dan layanan pengembangan konten.

 

c.    Tahapan Operasional

Tahapan operasional adalah ketika website telah selesai dibuat dan digunakan untuk kepentingan usaha. Website yang dihitung sebagai aset tak berwujud harus memenuhi kriteria sesuai yang tertulis dalam PSAK 19 (REVISI 2009), paragraf 18. Jika website telah memenuhi kriteria tersebut, maka website tersebut akan dicatat sebagai aset tak berwujud sesuai dengan PSAK 19 (REVISI 2009), paragraf 72-78.

 

Batasan

Dalam implementasinya, PSAK 19 (REVISI 2009) membatasi beberapa biaya yang tidak dimasukan ke dalam pengeluaran biaya aset tak berwujud. Sebagai contoh adalah pembelian, pengembangan dan pengoperasian perangkat keras (hardware) untuk website seperti server. Pengeluaran hardware akan dicatat terpisah sebagai aset tetap. Selain itu, pembelian webhosting juga tidak dicatat dalam pembiayaan aset tak berwujud. Pembelian webhosting akan dicatat sebagai biaya atau beban ketika layanan diterima dan aktif. Selain itu, pengembangan software atau website untuk dijual ke perusahaan juga tidak termasuk ke dalam pencatatan aset tak berwujud.