Memiliki usaha sendiri mungkin adalah cita-cita sebagian besar orang, termasuk anda. Membangun dinasti usaha sendiri, membuka lapangan kerja untuk orang lain dan memiliki kebebasan waktu dan finansial adalah sebuah pencapaian yang patut dibanggakan. Sebelum memulai usaha, anda perlu untuk belajar banyak mengenai usaha yang anda jalani tersebut. Begitu juga ketika usaha tersebut sudah berjalan, anda pun perlu mengevaluasi pencapaian anda. Jangan terlena dengan apa yang sudah anda dapatkan ketika itu. Jangan sampai jerih payah anda untuk membangun usaha anda menjadi sia-sia karena anda tidak mengevaluasi pencapaian anda. Berikut adalah hal-hal yang perlu anda perhatikan dan evaluasi ketika anda menjalankan bisnis anda.

1. Hati-hati dengan publikasi dan ketenaran

Akan ada masa-masa media akan menghampiri atau orang-orang mengundang entrepreneur jadi pembicara. Ini adalah pedang bermata dua. Ingat, anda menjadi entrepreneur bukan untuk artis atau pembicara, entrepreneur adalah pebisnis. Jangan sibuk jalan-jalan, namun bisnis gak jalan. Jangan sibuk jadi pembicara di luar, tapi malah menjadi bahan pembicaraan karyawan dari belakang.

2. Menang lomba tidak menggambarkan sehatnya bisnis anda sebagai entepreneur

Juara lomba diputuskan oleh orang luar dan sifatnya subyektif dan bisa jadi yang jadi penilai juga bukan praktisi, atau lebih parahnya lagi, jika lomba itu adalah kepentingan dari pihak yang punya lomba, entah kepentingan PR, branding, atau CSR biar laporan pajak aman. Sebenarnya mereka juga tidak peduli sepenuhnya sama bisnis anda. Ikut lomba boleh, tapi jangan melupakan how to build business. Karena anda bukan sedang berlomba, tapi sedang berbisnis.

3. Ketahui kesehatan bisnis anda

Anda sebagai entrepreneur bisa tahu bisnis anda sehat itu sederhanya dari melihat 3 hal: laporan laba rugi, neraca, dan cashflow. Laporan laba rugi memperlihatkan seberapa untung bisnis model yang anda jalankan. Neraca menggambarkan seberapa banyak asset yang anda punya. Dan cashflow memperlihatkan seberapa liquid perputaran uang anda. Kalau 3 hal ini aja gak ngerti, disarankan jangan bikin bisnis dulu.

4. Jangan terlalu bayak ikut seminar

Stop ikut seminar-seminar, training-training ketika sudah 2 tahun tidak ada perubahan. Bisa jadi anda sedang terperangkap oleh genjutsu (ilmu mempengaruhi 5 indra) dari pembicara. Untuk tahun-tahun pertama entrepreneur sangat disarankan untuk ikut seminar-seminar dasar tentang bisnis. Tapi, trendnya, masih banyak yang tidak keluar dari jeratan seminar-seminar atau training selama bertahun-tahun, bahkan malah ini jadi salah satu industri sendiri yang menjamur. Mereka yang ikut seminar berkali-kali sampai hafal materi pembicara dan akhirnya nyoba-nyoba buka seminar sendiri. Tadinya mau jadi entrepreneur bisnis kuliner, eh malah jadi pembicara bisnis kuliner yang jika dilihat dengan poin 3 di atas sebenarnya bisnisnya amburadul. Di lapangan, orang seperti ini banyak.

5. Kurangi Narsis

Jangan kebanyakan foto-foto sama entrepreneur yang anda anggap sukses. Dikit-dikit foto, dikit-dikit foto. sambil nunjukin jempol sukses. why? karena jika begitu terus anda akan terperangkap pada level ‘kagum’ dan tak akan pernah naik ke level ‘dikagumi’. Bahayanya di sini adalah, anda kagum karena pencitraan mereka. Coba lebih kenal dalam dengan mereka, anda akan menemukan banyak hal yang berbeda dari pencitraan orang-orang yang anda kagumi. Dalam ajaran agama Islam, ada 3 cara untuk mengenal diri seseorang: menginap bersamanya minimal 3 hari, berpergian jauh bersama, dan berbisnislah bersama mereka. Jika sudah dilakukan, barulah kagum atau tidaknya menjadi objective.

6. Segera hilangkan rasa bahwa diri anda hebat

Dunia ini sangat luas. Mungkin komunitas atau lingkungan anda bilang anda sangat, tapi di luar sana ada entrepreneur yang jauh berkali-kali lipat lebih hebat dari anda. Mungkin, saat ini anda disandingkan dengan para entrepreneur hebat di luar sana, tapi sebenarnya belum pantas. Yang terjadi akhirnya jebakan ‘merasa hebat’ muncul. Ketika sudah muncul, maka anda akan merasa ilmu, pengalaman, kejeniusan anda telah berada pada level/ruang orang yang sebenarnya lebih tinggi dari anda. Apa yang akan terjadi jika hal ini muncul? Anda tak akan pernah bergerak kemana-mana.

7. Semua butuh proses

Jangan cepat-cepat mau jadi boss atau menjadi atasan. Ada sindrom pada entrepreneur muda jenius merasa layak untuk diberi tempat dan penghargaan ini itu. Karena jarang sekali di usianya tersebut bisa begini dan begitu. Akhirnya muncul keangkuhan dan menilai apa-apa dari kacamata sendiri. Sering mau jadi nomer satu, harus dihargai berlebih. Padahal perbandingan yang dipakai bukanlah perbandingan yang objective. Jika muncul seperti ini, anda tidak akan pernah mau belajar dari bawah karena merasa sudah di atas sehingga susah untuk bekerja sama jika diposisikan jadi bawahan. Padahal, jika hidup rata-rata manusia 65 tahun, tidak mengapa ketika usia 22 tahun jadi bawahan selama 5 tahun, kan saat usia 27 tahun sudah jadi sesuatu. 5 tahun itu sebenernya bukan jadi bawahan, tapi belajar bagaimana jadi atasan. dan masih banyak usia yang lebih produktif untuk melakukan sesuatu hingga 65 tahun kan?

8. Hati-hati dengan pendapatan yang akan didapat

Ketika bisnis mulai bagus, biasanya pendapatan akan mulai terlihat. Uang sering mengubah karakter orang. Hati-hati dengan hati anda yang mudah berbolak-balik, pagi jadi malaikat, sore udah jadi iblis. Uang hanyalah alat tukar, bukan tujuan. Kembali lagi ke tujuan awal anda menjadi entrepreneur, mau bisnis untuk apa, diharapkan bisnis yang membawa manfaat. Pendapatan boleh naik, tapi gaya hidup tetap sederhana saja.

9. Hati-hati dengan provokasi

“Keluar Kerja!”, “Pakai Otak Kanan! Gak usah mikir” dan jebakan-jebakan semangat lainnya yang kadang menghilangkan akal sehat. Lagi-lagi ini pisau bermata dua. Maksudnya secara positif di sini adalah penyemangat bagi orang-orang yang sudah siap untuk berbisnis tapi belum juga berani full berbisnis. Semangat ini bukan buat mereka yang putus asa, gak punya basic, dan masih labil. Karena ketika memutuskan berbisnis itu cuma dua kemungkinannya: Tambah sejahtera dan tambah bangkrut. Dan segala hal yang diputuskan tanpa persiapan selalu gagal pada akhirnya. Bisnis butuh banyak sekali persiapan: Coba cari referensi sana-sini dulu sebelum memutuskan. Karena sebenarnya, banyak karyawan yang gajinya ratusan juta dan hidupnya tenang-tenang aja. Jadi kalau jadi pebisnis itu untuk dapet uang lebih banyak gak selalu benar, karena jadi karyawan pun SANGAT BISA. Sebelum berpikir positif atau semangat gak jelas, kedepankan dulu berpikir tepat dengan akal sehat yang objektif.

10. FOKUS!

walau akan banyak peluang yang datang. Ketika fokus anda akan belajar memahami kuda-kuda yang kuat, kesabaran, logika, pola, dan kesiapan ketika ada peluang yang datang. Fokus berbicara kesiapan. Kesiapan menerima peluang, apakah anda sudah siap menerimanya? Siap tidak siap dibentuk dari kefokusan.

11. Kerja dulu baru bisnis

Lebih baik, anda kerja dulu di industri yang akan anda bisniskan nantinya. Karena ketika anda kerja dulu maka anda akan melihat dari hulu ke hilir bagaimana keseluruhan industrinya sampai akar-akarnya. hal ini akan sangat memudahkan anda ketika nanti berbisnis. Tapi, jangan keasyikan sampai lupa bahwa mau dibisniskan. Jika tidak mau, maka carilah partner yang sudah tau industrinya sampai ke akar-akarnya.

12. Bisnis berbicara tentang angka, bukan perasaan

Jika ditanya sales berapa, jawab dengan “1, 2, 3” bukan “Laku bangettt brooo!”. semua harus tercatat. PENCATATAN dalam bisnis adalah akar, pelajarilah akuntansi. Ini ilmu sendiri yang harus dipahami. kalau gak ngerti ini, jangan buka bisnis dulu deh. Kalau gak mau ngerti, ajak temen anda yang ngerti atau gunakan tools akuntansi yang dapat mempermudah anda memahaminya.

13. Bisnis adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar

Buatlah bisnis untuk memenuhi KEBUTUHAN pasar, bukan KEINGINAN pribadi/tim. Di sinilah riset diperlukan. kalau di online anda punya tools semacam Google Keyword planner tools, google trend, FB audience insight, hingga paper-paper baik secara makro maupun mikro. Butuh sekali riset mendalam, jangan level asumsi “Laku deh!”, “Dari mana anda tahu akan laku? datanya?”, “Mmmm. ya laku deh! teman saya banyak yang beli..”. Jangan asumsi ya, karena anda bukan lagi main sinetron, bisnis itu dunia real apalagi jadi backbone utama, kalau anda gak dapet pendapatan ya anda bakal sengsara.

14. Perbaiki hubungan dengan orang terdekat

Percaya tidak percaya orang terdekat punya sambungan energi rezeki, khususnya keluarga. Jika hubungan dengan keluarga tersumbat, maka aliran energi rezeki juga akan tersumbat. Sebuah bisnis yang sehat dan lancar ditopang oleh hubungan yang harmonis orang-orang di dalamnya. Tidak hanya itu, menjalin hubungan dengan orang lain di luar bisnis juga dapat membangun peluang yang dapat memperbesar bisnis kita. Jadi ini lah kaitan hubungan anda dengan orang-orang terdekat terhadap kelancaran bisnis anda.

15. Jadilah SUBYEK jangan jadi OBYEK

Anda harus sadari memiliki diri, memiliki kuasa atas diri sendiri. ketika anda sudah menyadari itu, akhirnya anda bisa menentukan jalan anda sendiri. berbicara bisnis, paling penting adalah masalah leadership. bagaimanakah jadi pemimpin yang baik. ketika anda masih jadi obyek yang disuruh-suruh (bisa karena andanya memang gak inisiatif atau karena anda gak berani mengemukakan pendapat), maka bisnis anda tak akan pernah maju. jadilah subyek, sadari kuasa atas diri anda. mulailah dari inisiatif atas masalah-masalah yang terjadi di sekitar anda, ambil masalah itu selesaikan jangan nunggu disuruh, karena anda bukan pesuruh. tapi juga bedakan ya antara leadirship dan boss. Leader itu menggerakkan dengan teladan, sedangkan boss menggerakan dengan ancaman.